PANDUANEKA

Aneka Panduan & Solusi Anda

12 April 2018

5 Industri Bisnis di Indonesia yang Menuju Kebangkrutan

Loading...
“Untuk bertahan, sebuah bisnis harus bisa mengikuti tren”, begitulah yang sering disampaikan para motivator bisnis. Anda boleh setuju boleh tidak, tapi kenyataannya memanglah demikan. Sudah banyak industri bisnis yang gulung tikar karena tidak bisa mengikuti arus jaman.

Anda mungkin sudah dengar tentang Seven Eleven, salah satu supermarket asing terbesar di dunia yang menutup cabangnya di Indonesia ? Atau mungkin sempat dengar informasi mengenai sepinya pembeli di pasar Glodok?

Miris sekali memang, karena Seven Eleven adalah brand raksasa di industri retail yang memiliki cabang di berbagai belahan dunia. Dan siapa yang tidak kenal dengan pasar Glodok, dulu sebelum orang mengenal istilah belanja online, kalau mau beli barang elektronik, ya larinya ke Glodok.

Sayangnya, kondisi seperti yang dialami Seven Eleven dan Glodok ini sudah dialami sejak beberapa tahun belakangan ini karena menjamurnya toko online dan semakin meningkatnya pertumbuhan belanja online di masyarakat, disisi lain, penjual juga diberatkan dengan uang sewa toko.


Trend bisnis saat ini dan masa depan

Bill Gates, pendiri Microsoft pernah meramalkan tren menjamurnya bisnis online ini, dimana dia mengatakan di masa depan semua kebutuhan orang akan terpenuhi tanpa perlu keluar rumah.

Sekarang hal tersebut semakin menjadi kenyataan, trend sepinya transaksi langsung antara pembeli dan penjual (offline) yang akhir-akhir ini seperti di pasar Glodok diramalkan akan terus berlanjut bahkan besar kemungkinan akan semakin menggerus para pebisnis offline.

Ke depan semua akan mengarah ke sistem e-Commerce, yaitu peralihan sistem pembelian dari proses tradisional (offline) dimana pembeli bertemu dengan penjual di suatu tempat (seperti toko), akan berubah ke sistem pembelian secara online, dimana pembeli tidak lagi harus bertemu bahkan berinteraksi dengan penjual.

Perubahan trend ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi telah terjadi juga di belahan dunia lain dan akan terus terjadi mengikuti perilaku manusia modern yang menginginkan sesuatu yang simpel, fleksibel dan efisien. Akibatnya, beberapa industri dan bisnis kalau tidak mau semakin terpuruk, terpaksa atau dipaksa untuk beradaptasi dengan tren ini.

Industri Bisnis yang terkena E-Commerce Effect

Berikut 7 industri yang diprediksi akan terpuruk karena perkembangan dunia digital saat ini :

1. Media Cetak

Sekarang semua orang dapat dengan mudah mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia dengan sangat mudah, dimanapun dan kapanpun.

Dulu, pada tahun 1990-an sampai 2000-an saya adalah pelanggan setia koran Bola. Tapi semenjak adanya akses internet yang mudah dan murah saya berhenti berlangganan dan cukup mencari informasi dari smartphone saya.

Ada beberapa media cetak lokal di Indonesia seperti Sinar Harapan, Harian Bola, Koran Tempo Minggu, Jakarta Globe dan beberapa koran lainnya yang terpaksa harus menutup bisnisnya karena tingginya biaya cetak koran dan tidak mampu bersaing dengan media online seperti detik.com, okezone.

Hal serupa tidak hanya terjadi di industri media cetak Indonesia tetapi juga terjadi di media cetak asing seperti di Amerika, sebut saja The Washington Post dan The New York Times.

Untuk menyikapi kondisi ini, ada beberapa media cetak lokal yang mulai mengalihkan bisnisnya menuju digitalisasi seperti yang dilakukan Group Gramedia yang disamping tetap mengelola media cetak Harian Kompas juga telah meluncurkan channel online Kompas.com dan mendirikan saluran televisi Kompas TV

2. Retail dan Perdagangan

Kita seakan tidak percaya, ketika mendengar berita kebangkrutan salah satu raksasa supermarket dunia yang mengusung konsep supermarket dan coffee shop, yaitu Seven Eleven.

Hal ini terjadi karena persaingan di bisnis retail saat ini memang sangatlah ketat. Belum lagi gebrakan yang dilakukan raksasa market online Amerika, Amazon yang meluncurkan AmazonGo.

Konsep AmazonGo yang mengintegrasikan supermarket dengan aplikasi smartphone diprediksi akan menjadi tren baru dan tidak menutup kemungkinan suatu saat akan masuk ke pasar Indonesia.

Dengan mengusung konsep “No lines, No checkout” atau “Tanpa antri, Tanpa bayar dikasir”, pembeli akan semakin dimanjakan dengan segala kemudahan tanpa perlu keluar rumah sekalipun. AmazonGo diramalkan akan menjadi tantangan berat untuk brand-brand supermarket ternama seperti Carrefour, Hypermart dan lain-lain apabila tidak segera berbenah.

3. Pasar Tradisional

Kalau yang sekelas supermarket seperti Seven Eleven saja bisa bangkrut, maka tidak mustahil pasar tradisional juga bisa lenyap. Contohnya saja, pasar Glodok, Roxy Square dan Tanah Abang.

Pasar elektronik Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat pada tahun 1990-an pernah menjadi salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Indonesia. Tapi sejak 2-3 tahun ke belakang, Glodok mengalami penurunan jumlah pembeli.

Roxy Square juga mengalami hal serupa, kawasan ini pernah menjadi salah satu saksi bisu menggeliatnya pasar handphone di Indonesia pada tahun 2000-an, tapi sekarang mulai ditinggal para penjual karena sepinya pembeli.

Hal serupa juga terjadi di Pasar Tanah Abang yang telah ada sejak tahun 1735 dan menjadi salah satu pusat penjualan tekstil terbesar se-Asia Tenggara.

3 tahun belakangan ini para penjual mengalami penurunan penjualan hingga mencapai lebih dari 50% jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu penyebabnya adalah berkembangnya toko online. Hampir kebanyakan pedagang yang masih bertahan karena mereka juga memiliki toko online atau adanya beberapa pembeli reseller yang menjual kembali barang dagangan mereka melalui online.

4. Transportasi

Siapa yang tidak tahu BlueBird, raksasa penyedia jasa taksi di Indonesia.  Tapi, sekarang, perlahan mulai tergerus oleh fenomena taksi online, Uber.

Anda pasti kenal dan mungkin pernah menggunakan jasa GoJek, Grab atau Uber? Ya, mereka adalah 3 brand transportasi terbesar saat ini di Indonesia.

Konsep ketiga brand ini memang unik, perusahaan-perusahaan ini tidak memiliki aset transportasi seperti layaknya bisnis transportasi pada umumnya, mereka menawarkan konsep  “share economy” atau “peer economy”. Dimana ketiga brand tersebut hanya bertindak layaknya sebagai operator yang memfasilitasi para pengemudi online yang menjual jasa dengan para calon penumpang.

Model bisnis ini ternyata berdampak sangat besar di masyarakat. Ada penolakan dari sebagian besar pelaku jasa transportasi offline seperti pengemudi taksi dan para tukang ojek pangkalan karena merasa lahan mereka diserobot dengan tidak fair.

Apapun itu, ke depan mau tidak mau bisnis transportasi akan mengarah ke model online karena terbukti mempermudah penumpang untuk menggunakan jasa moda transportasi pilihannya.

5. Hotel dan Penginapan

Hampir serupa dengan nasib transportasi offline, industri perhotelan juga makin sulit dan terus berusaha bertahan agar tetap dapat keuntungan dari jumlah tingkat hunian (occupancy).

Banyaknya online marketplace seperti AirBnB dan aplikasi cek budget hotel seperti Airy Room disinyalir menjadi salah satu penyebab menurunnya pendapatan pada industri ini.

Website/aplikasi yang memungkinkan pemilih rumah, villa, apartement bahkan kamar kos, dapat menyewakan propertinya kepada orang lain yang tentunya dengan harga lebih murah dibandingkan harga hotel menjadi pertimbangan orang mulai meninggalkan hotel.

Penutup

Mungkin masih banyak jenis industri yang terancam dengan adanya tren era digital ini, tapi satu yang pasti....

Beralih dari bisnis offline ke dunia digital atau online bukan lagi menjadi pilihan tetapi sudah menjadi keharusan karena sejatinya hanya ada 2 pilihan untuk Anda : Tergerus arus jaman atau beradaptasi dengan tren

Sebaiknya Anda baca : 5 Alasan Mengapa Anda Harus Membuat Blog Untuk Kemajuan Bisnis Anda

Mudahnya menjalankan bisnis online mengakibatkan ledakan jumlah toko online di seluruh dunia.

Modal kecil, tanpa resiko kerugian, membuat toko online dalam beberapa menit dan peluang keuntungan besar, menjadi beberapa alasan banyak orang untuk terjun ke bisnis online. Ayo segera beralih ke bisnis online !

Sekian sedikit ulasan mengenai beberapa industri yang terancam gulung tikar dengan adanya tren bisnis online, semoga bermanfaat.

Jika Anda punya tambahan informasi dan pertanyaan silahkan ajukan melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

- Silahkan berkomentar sesuai topik.
- Mohon centang pada Notive me agar tahu balasan dari kami.
- Sebelum bertanya, silahkan Anda cari terlebih dahulu di kotak pencarian (Search)
- Untuk setiap komentar saya akan lakukan kunjungan balik ke situs Anda dengan atau tanpa komentar
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya