PANDUANEKA

Aneka Panduan & Solusi Anda

05 February 2018

Pengertian Asuransi Syariah dan Landasan Hukumnya Menurut Islam

Pengertian Asuransi Syariah – Selama ini banyak orang menganggap asuransi termasuk jenis investasi yang menguntungkan tetapi masuk dalam kategori hukum abu-abu bahkan ada sebagian yang mengharamkan dengan alasan karena mendahului kehendak Allah. Hal ini sebenarnya wajar, mengingat sosialisasi akan pengertian asuransi syariah sendiri masih sangat minim.

Semakin tingginya kesadaran dan minat masyarakat terhadap produk berlabel sesuai syariah dan halal membuat saat ini asuransi syariah mulai ramai diperbincangkan dan dilirik sebagai alternatif bagi orang-orang yang mau ikut asuransi tetapi memiliki ketakutan akan hukum asuransi konvensional

Di Indonesia sendiri, saat ini asuransi syariah sudah banyak tersedia dalam berbagai produk asuransi seperti asuransi jiwa dan asuransi kesehatan yang bisa didapatkan melalui perusahaan-perusahaan asuransi.
Pengertian Asuransi Syariah dan Landasan Hukumnya Menurut Islam

Pengertian asuransi syariah

Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), pengertian Asuransi Syariah adalah sebuah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui Akad yang sesuai dengan syariah.

Asuransi Syariah merupakan sebuah sistem di mana para peserta mendonasikan sebagian atau seluruh premi/kontribusi yang mereka bayar untuk digunakan membayar klaim atas musibah yang dialami oleh sebagian peserta. Proses hubungan peserta dan perusahaan dalam mekanisme pertanggungan pada asuransi syariah adalah sharing of risk atau saling menanggung risiko.

Perbedaan pokok antara asuransi syariah dan asuransi konvensional

Apabila terjadi musibah, maka semua peserta dalam asuransi syariah saling menanggung. Dengan demikian, hal ini berbeda dengan yang terjadi pada asuransi konvensional, dimana terjadi transfer risiko (transfer of risk atau memindahkan risiko) dari peserta ke perusahaan.

Peranan perusahaan asuransi syariah terbatas hanya sebagai pemegang amanah dalam mengelola dan menginvestasikan dana dari kontribusi peserta. Jadi disinilah letak perbedaan pada asuransi berbasis Islam dibandingkan dengan asuransi konvensional, dimana perusahaan hanya bertindak sebagai pengelola operasional saja bukan sebagai penanggung.

Tabarru’ 

Dalam pengertian asuransi syariah yang dikeluarkan oleh MUI dan DSN diatas, terdapat istilah tabarru’. Apa itu tabarru’?

Definisi tabarru’ adalah sumbangan atau derma (dalam definisi Islam adalah Hibah). Sumbangan atau derma (hibah) atau dana kebajikan ini diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi syariah jika sewaktu-waktu akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat asuransi lainnya.

Dengan adanya dana tabarru’ dari para peserta asuransi Islam ini maka semua dana untuk menanggung risiko dihimpun oleh para peserta sendiri.

Dengan demikian kontrak polis pada asuransi syariah berbeda dengan asuransi konvensional, dimana pada asuransi syariah menempatkan peserta sebagai pihak yang menanggung risiko, bukan perusahaan asuransi, seperti pada asuransi konvensional.

Maka dalam hal ini perusahaan asuransi syariah hanya sebagai pengelola yang diberi kuasa oleh peserta asuransi untuk mengelola dana-dana yang terhimpun dan digunakan dari dan oleh peserta baik dari segi administratif maupun investasinya.

Jadi, posisi perusahaan asuransi syariah hanyalah sebagai pengelola atau operator saja dan BUKAN sebagai pemilik dana.

Sebagai pengelola atau operator, fungsi perusahaan asuransi hanya MENGELOLA dana peserta saja, dan pengelola tidak boleh menggunakan dana-dana tersebut jika tidak ada kuasa dari peserta.

Dengan demikian maka unsur yang diharamkan dalam Islam seperti Gharar (ketidak jelasan)  dan Maysir (untung-untungan) pun tidak ada karena 2 alasan :

  1. Posisi peserta sebagai pemilik dana menjadi lebih dominan dibandingkan dengan posisi perusahaan yang hanya sebagai pengelola dana peserta saja. 
  2. Peserta akan memperoleh pembagian keuntungan dari dana tabarru’ yang terkumpul. Hal ini berbeda dengan asuransi konvensional (non-syariah) di mana pemegang polis tidak mengetahui secara pasti berapa besar jumlah premi yang berhasil dikumpulkan oleh perusahaan, apakah jumlahnya lebih besar atau lebih kecil daripada pembayaran klaim yang dilakukan, karena di sini perusahaan, sebagai penanggung, bebas menggunakan dan menginvestasikan dananya ke mana saja.

Untuk lebih mengenal tentang asuransi syariah, sebaiknya kita telaah landasan adanya asuransi dalam fiqih Islam dan kilas balik sejarah terbentuknya asuransi syariah.

Landasan asuransi syariah dalam Islam

Dalam literatur fiqh klasik ada salah satu instrument ekonomi Islam yang menjadi cikal bakal asuransi syariah yaitu At-ta’min (Asuransi).

Menurut para ulama yang pakar dalam perundang-undangan Islam, ada beberapa konsep yang menjadi landasan adanya konsep At-Ta’min (Asuransi) berdasarkan Syari’ah Islam, diantaranya adalah :

Al ‘Aqilah 

Saling memikul atau bertanggungjawab untuk keluarganya. Jika salah satu anggota suku terbunuh oleh anggota suku lain, pewaris korban akan dibayar dengan uang darah (diyat) sebagai kompensasi saudara terdekat dari pembunuh. Saudara terdekat dari pembunuh disebut aqilah. Lalu, mereka mengumpulkan dana (AI-Kanzu) yang mana dana tersebut untuk membantu keluarga yang terlibat dalam pembunuhan tidak sengaja.

Hal ini tercantum dalam QS Annisa 4:92 yang berbunyi : “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain kecuali karena tidak sengaja, dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah maka hendaklah seorang hamba sahaya beriman serta membayar diyat... “

Aqilah  dianggap oleh sebagian ulama sebagai cikal bakal konsep asuransi syari’ah. Aqilah berasal dari tradisi bangsa Arab jauh sebelum Islam datang.

Jadi Aqilah merupakan tanggung jawab kelompok, sehingga para ahli hukum Islam mengklaim bahwa dasar dari tanggung jawab kelompok itu terdapat pada sistem Aqilah sebagaimana dipraktikkan oleh muhajirin dan anshar.

AI-Muwalat (Perjanjian jaminan) 

Penjamin menjamin seseorang yang tidak memiliki waris dan tidak diketahui ahli warisnya. Penjamin setuju untuk menanggung bayaran dia, jika orang yang dijamin tersebut melakukan jinayah. Apabila orang yang dijamin mati, penjamin boleh mewarisi hartanya sepanjang tidak ada warisnya.

Al-Qasamah 

Konsep perjanjian ini juga berhubungan dengan jiwa manusia. Sistem ini melibatkan usaha pengumpulan dana dalam sebuah tabungan atau pengumpulan uang iuran dari peserta atau majlis.

Manfaatnya akan dibayarkan kepada ahli waris yang dibunuh jika kasus pembunuhan itu tidak diketahui siapa pembunuhnya atau tidak ada keterangan saksi yang layak untuk benar-benar secara pasti mengetahui siapa pembunuhnya.

At-Tanahud 

Makanan yang dikumpulkan dari para peserta safar (perjalanan) kemudian dicampur menjadi satu. Makanan tersebut pada saatnya akan dibagikan kepada mereka, kendati mereka mendapatkan porsi yang berbeda-beda.

Rasulullah SAW bersabda: “Bahwa marga Asy’ari (asy’ariyyin) ketika keluarganya, mengalami kekurangan bahan makanan, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki dalam satu tempat kemudian dibagi diantara mereka secara merata, mereka adalah bagian dari kami dan kami adalah bagian dari mereka

Dalam kasus ini, makanan yang diserahkan bisa jadi sama kadarnya atau berbeda-beda. Begitu halnya dengan makanan yang diterima, bisa jadi sama porsinya dan bisa berbeda-beda.

Aqd al-hirasah (Kontrak Pengawal Keselamatan) 

Di dunia Islam terjadi berbagai kontrak antar individu, misalnya ada individu yang ingin selamat lalu ia membuat kontrak dengan seseorang untuk menjaga keselamatannya, dimana ia membayar sejumlah uang kepada pengawal, dengan konpensasi keamanannya akan dijaga oleh pengawal.

Dhiman Khatr Tariq 

Kontrak ini merupakan jaminan keselamatan bepergian. Pada masa lalu para pedagang muslim ingin mendapatkan perlindungan keselamatan saat berdagang, lalu mereka membuat kontrak dengan orang-orang yang kuat dan berani di daerah rawan yang mereka lalui.

Mereka membayar sejumlah uang, dan pihak lain menjaga keselamatan perjalanannya.

Al-Wadi’ah biujrin

Dalam kontrak jenis ini, apabila terjadi kerusakan pada barang ketika dikembalikan, maka pihak penerima wadiah/titipan wajib menggantinya, karena ketika menitipkan pihak penitip telah membayar sejumlah uang kepada tempat penitipan.

Nizam al-Taqaud

Anda mungkin tidak tahu, jika sistem pensiun sudah lama berjalan di dunia Islam. Jadi pegawai suatu instansi berhak mendapat jaminan haritua berupa pensiun, sebagai imbalan dari usahanya ketika ia bekerja dahulu.

Bentuk-bentuk muamalah/transaksi ekonomi islam di atas, dianggap memiliki kemiripan dengan prinsip-­prinsip asuransi Islam, maka oleh sebagian ulama dianggap sebagai landasan dan acuan operasional asuransi Islam yang dikelola secara profesional.

Bedanya, sistem muamalah tersebut didasari atas amal  tathowwu’ (tolong menolong) dan  tabarru’ yang tidak berorientasi kepada profit/keuntungan.

Sejarah terbentuknya asuransi syariah

Menurut beberapa literatur yang ada, pada abad kedua Hijriah atau abad keduapuluh Masehi, pebisnis Islam yang kebanyakan pelaut, sebenamya telah melaksanakan sistem kerja sama atau tolong menolong untuk mengatasi berbagai kejadian dalam menopang bisnis mereka, mirip mekanisme asuransi. 
     
Kerjasama ini mereka laksanakan untuk mengatasi kerugian bisnis, karena musibah yang terjadi seperti tabrakan, tenggelam, terbakar atau akibat serangan penyamun.

Sekitar tujuh abad kemudian, sistem ini akhimya diadopsi para pelaut eropa dengan melakukan investasi atau mengumpulkan uang bersama dengan sistem membungakan uang.

Sekitar abad kesembilan belas, cara membungakan bunga inipun menjelajahi penjuru dunia, terutama setelah dilakukan para pengusaha keturunan yahudi yang membuat prinsip tolong-menolong itu dirubah bentuknya menjadi perusahaan­perusahaan dagang.

Dunia Islam mulai berkenalan dengan asuransi sekitar abad ke-19 melalui penjajahan Dunia Barat ke beberapa wilayah dunia Islam, dimana kebudayaan dan hukum-hukumnya dipaksakan kepada masyarakat muslim.
       
Masalah asuransi merupakan suatu bentuk muamalah yang telah mengundang respon dan para pemerhati muamalah Islam, terutama pada abad ke-20 ini. Para ulama fiqih menyadari bahwa asuransi (baik dalam bentuk wujud maupun pengaturannya) merupakan persoalan yang belum pernah dikenal sebelumnya, sehingga hukumnya tidak ditemukan dalam fiqih yang beredar di dunia Islam. OIeh karena masalah asuransi dalam Islam termasuk ruang lingkup ijtihadiyyah.

Seiring dengan bergulirnya waktu dan ijtihad para pemerhati ekonomi Islam bergulir secara kontinu, sehingga mereka sampai kepada sebuah konsep yang dapat disepakati bersama serta menjadi acuan dunia. Konsep tersebut populer dengan nama asuransi mutual, kerjasama (ta’awuni), atau at-takmin ta’awuni.

Konsep Asuransi Ta’awuni merupakan rekomendasi fatwa Muktamar Ekonomi Islam yang bersidang kali pertama tahun 1876 M di Mekah. Peserta hampir 200 para ulama.

Kemudian dibuatkan lagi pada Majma’ al-Fiqh al-Islami yang bersidang pada 28 Desember 1985 di Jeddah, juga memutuskan pengharaman Asuransi Jenis Perniagaan.   Majma’ Fiqih juga secara ijma’ mengharuskan asuransi jenis kerjasamaa (ta’awuni) sebagai altenatif asuransi Islam menggantikan jenis asuransi konvensional.

Majma’ Fiqih menyerukan agar seluruh ummat Islam dunia menggunakan asuransi ta’awuni. Maka diawali pada tahun 1979 di Sudan, Sudanese Islamic Insurance, yaitu sebuah perusahaan asuransi jiwa pertama kali memperkenalkan asuransi syariah.

Pada tahun yang sama pula Di Uni Emirat Arab ada sebuah perusahaan asuransi jiwa yang memperkenalkan asuransi syariah di wilayah Arab.

Kemudian pada tahun 1981 sebuah perusahaan asuransi jiwa Dar Al-Maal Al-Islami yang berkantor di Swiss, jugamemperkenalkan asuransi syariah di Jenewa. Pada tahun 1983 Islamic Takafol Company di Luxemburg menerbitkan asuransi syariah kedua di Eropa.

Masih pada tahun yang sama, sebuah perusahaan asuransi syariah bernama Islamic Takafol & Re-Rakafol Company juga didirikan di Kepulauan Bahamas. Demikian juga halnya dengan Bahrain, sebuah perusahaan asuransi jiwa berbasis syariah, yaitu Syarikat Al-Takafol Al-Islamiah Bahrain.

Khusus di wilayah Asia sendiri, asuransi syariah pertama kali ada pada tahun 1985 di Malaysia melalui sebuah perusahaan asuransi jiwa bernama Takaful Malaysia. Sampai saat ini asuransi syariah semakin dikenal luas dan diminati oleh masyarakat di berbagai negara baik muslim maupun non-muslim.

Demikian ulasan tentang pengertian asuransi syariah, landasan hukum dan beberapa perbedaan prinsip dengan asuransi konvesional, semoga bermanfaat dan bisa menjadi referensi Anda.

Sumber : http://www.asuransisyariah.asia/Pengertian-Asuransi-Syariah.html

No comments:

Post a Comment

- Silahkan berkomentar sesuai topik.
- Mohon centang pada Notive me agar tahu balasan dari kami.
- Sebelum bertanya, silahkan Anda cari terlebih dahulu di kotak pencarian (Search)
- Untuk setiap komentar saya akan lakukan kunjungan balik ke situs Anda dengan atau tanpa komentar
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya